Bernas.id - Meski menyandang difabel yang memiliki keterbatasan, Ki Sardjono seorang dalang tunanetra ini tidak kalah dengan dalang-dalang lainnya yang mempunyai penglihatan sempurna. Hal itu tampak terlihat ketika Ki Sardjono pentas dalam acara pagelaran Wayang Ringkes, Jumat (13/04/2018) malam, di Halaman Radio Koncotani, Jalan Godean, Sidokarto, Sleman, Yogyakarta.

Dengan lakon Semar Boyong, dihadapan lebih kurang 200 penonton yang hadir, Ki Sardjono cukup luwes dalam memainkan wayang sesuai karakternya atau dalam istilah pedalangan disebut dengan sabetan, vokal suaranya pun lumayan mantab.

Seperti yang dipaparkan oleh Penyiar Radio Koncotani M Sukardi Siratmaja kepada Bernas.id, bahwa Ki Sardjono ini belajar mendalang atau menjadi siswa pamulangan (pendidikan) dalang gagrak (versi) Ngayogyakarta di Habiranda. Habiranda merupakan pendidikan dalang yang dimiliki oleh Kraton Yogyakarta yang telah meluluskan banyak dalang-dalang tenar di Yogyakarta maupun Jawa Tengah.

“Dalam pementasan dan memainkan wayang agar lancar dan tidak salah, Ki Sardjono dibantu oleh panjak atau pembantu yang mempersiapkan wayang yang dimainkan, serta pada tangkai gapit wayang diberi tanda sesuai nama tokoh wayang. Ki Sardjono patut sebagai contoh, meskipun beliau itu difabel namun semangat nguri uri kebudayaan terutama seni pedalangan sangat hebat,” jelas Sukardi yang selain berprofesi sebagai penyiar di Radio Koncotani, juga sebagai pelaku seni dan tercatat sebagai siswa Habiranda.

Sementara, Wayang Ringkes adalah salah satu mata acara di Radio Koncotani, yang digelar setiap selapan sekali atau 35 hari setiap malam Sabtu Wage, secara live langsung di halaman studio, disebut ringkes karena durasi pementasan wayang hanya berkisar tiga jam dari pukul 21:00 – 24:00 WIB.

Radio yang awalnya berupa radio komunitas ini, sekarang memiliki alamat frekuensi atau gelombang 711 Khz AM dan menjadi satu-satunya radio swasta di Jogja yang semua mata acaranya/ siarannya berbahasa Jawa sesuai motto dari radio tersebut, yakni Nguri Uri Lestarining Budaya Jawi yang bermakna menjaga kelestarian budaya Jawa. (Sumber Harian Bernas, 14 April 2018)