PANGERAN Sambernyawa atau Mangkunegara I, memiliki filosofi yang begitu luhur dalam kepemimpinan. Filosofi Tiji Tibeh ini terbukti ampuh manakala Sang Pangeran menerapkan konsep tersebut selepas meninggalkan Keraton Kartasura.

Konsep Tiji-Tibeh (Mati Siji Mati Kabeh, atau Mukti Siji Mukti Kabeh) menunjukkan semangat kebersamaan antara pemimpin dengan kawulanya. Pangeran Sambernyawa memang dikenal sebagai sosok pemimpin yang mau terjun langsung ke rakyatnya, dan menanggalkan batas antara kawula dengan gusti. Dalam setiap pertempuran, Pangeran Sambernyawa selalu bersedia turun langsung untuk membakar semangat pasukannya. Setidaknya konsep Tiji Tibeh ini dikumandangkan pertama kalinya ketika Pangeran Sambernyawa beserta pasukannya berada di Nglaroh.

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Bukti keterlibatan Pangeran Sambernyawa yang kukuh memegang filosofi ini, antara lain dalam peperangan di hutan Sitakrepyak tahun 1756. Peperangan saat itu berjalan timpang, lantaran jumlah lawan tak sepadan dengan pasukan Sambernyawa. Di saat itulah Sang Pangeran menghentak medan laga, menggelorakan semangat seluruh pasukannya. Dalam pertempuran tersebut, Sambernyawa berhasil memenggal kepala pemimpin pasukan Belanda, Kapten Van Der Pol.

Filosofi Tiji Tibeh juga diberlakukan Pangeran Sambernyawa setiap membagi pampasan perang. Kalau biasanya sang pemimpin diberi kebebasan untuk memilih pampasan mana yang menjadi miliknya, maka hal itu tidak berlaku bagi Sambernyawa. Dia justru membagi rata harta pampasan perang dengan seluruh pasukan. Tak jarang dia meminta giliran paling akhir ketika memilih pampasan perang. Sikap Pangeran Sambernyawa ini menjadi pembuktian penerapan filosofi Tiji Tibeh yang berarti, Mukti Siji Mukti Kabeh. (Fadhil Nugroho/CN41/SMNetwork)

sumber : http://berita.suaramerdeka.com/ngleluri-ajaran-tiji-tibeh-pangeran-sambernyawa/