AJINING dhiri gumantung ana ing lathi. Demikianlah lengkapnya peribahasa Jawa ini. Terlihat singkat, namun sebenarnya menyimpan makna mendalam. Harga diri, kehormatan diri, semua bergantung pada apa yang keluar dari mulutnya. Jika seseorang itu ingin dihargai, semestinyalah kalimat yang disampaikan harus melambangkan “harga” dirinya sendiri. Seseorang benar-benar harus memilih dan memilah kata, sebab “mulutmu harimaumu.” Jangan sampai cap sebagai orang urakan dan tak bermoral mendarat, hanya gara-gara kalimat yang terucap tak memperhatikan norma dan etika.

 

Ibu Tien Soeharto, salah seorang ibu negara yang konsisten berkebaya Jawa. (Foto: redhotmind.blogspot.com)

Ibu Tien Soeharto, salah seorang ibu negara yang konsisten berkebaya Jawa. (Foto: redhotmind.blogspot.com)

Lebih dari itu, jika seorang cendekiawan atau ulama mengeluarkan pendapat, haruslah segalanya dipertimbangkan masak-masak. Sebab harga seorang manusia terletak pada apa yang diucapkannya, seseorang yang menyandang predikat sebagai cendekiawan, guru, atau juga ulama, harus mempertanggungjawabkan gelar itu pada kalimat yang diutarakan. Jangan sampai menodai penghormatan yang disandang hanya karena apa yang diucapkan tak sesuai dengan kepribadian.

Begitu pun dengan peribahasa “ajining raga saka busana.” Seseorang harus menghargai dan menghormati dirinya sendiri lewat apa yang dikenakannya. Kalau dia mampu menghormati dan menghargai dirinya lewat busana, orang lain juga akan menaruh segan yang sama padanya. Jangan menyalahkan stigma negatif yang muncul jika memang kita sendiri tak mampu menjaga penampilan kita. Betapa busana memberi penghargaan tersendiri bagi tubuh kita. Lebih dari itu, seseorang hendaknya selalu tahu tempat dan waktu untuk berbusana, atau dalam istilah masa kini, jangan sampai “salah kostum.” Segalanya semata-mata demi ngajeni awak-e dhewe.Menghargai dirinya sendiri. (Fadhil Nugroho/CN41/SMNetwork)

sumber : http://berita.suaramerdeka.com/ajining-diri-saka-lathi-ajining-raga-saka-busana/