MESKI sama-sama berdiri sebagai pusat kerajaan sekaligus pusat kebudayaan di tanah Jawa, namun Surakarta dan Yogyakarta memiliki ragam tersendiri untuk berbagai produk kebudayaannya. Selain tari dan wayang, di dua tanah ini, blangkon juga memiliki perbedaan.

Namun yang pasti, blangkon adalah bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Dari beberapa tipe blangkon, ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon yang disebut mondholan. Bedanya,mondholan pada blangkon gaya Surakarta berbentuk gepeng, sedang mondholan gaya Yogyakarta berbentuk bulat seperti onde – onde.

Blangkon Gaya Yogyakarta. (Foto: Istimewa)Blangkon Gaya Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Masing-masing bentuk blangkon juga memiliki filosofi tersendiri. Konon, blangkon gaya Yogyakarta yang mempunyai mondholan dilatarbelakangi oleh kebiasaan pemuda Yogya yang memelihara rambut panjang dan diikat ke atas atau digelung. Dari gelungan yang dibungkus dan diikat itulah kemudian berkembang menjadi blangkon. Selain itu mondholan mempunyai makna kebulatan tekad seorang pria dalam melaksanakan kewajibannya.

Filosofi blangkon gaya ini adalah, masyarakat Jawa pandai menyimpan rahasia dan tidak suka membuka aib orang lain atau diri sendiri. Dalam bertutur kata dan bertingkah laku penuh dengan kehati-hatian, sebagai bukti keluhuran budi pekerti orang Jawa. Blangkon gaya Yogyakarta juga menyimpan makna jika orang Jawa senantiasa berpikir untuk berbuat yang terbaik demi sesama, meski harus mengorbankan dirinya sendiri. Adapun wiron atau wiru yang berjumlah 17 lipatan melambangkan jumlah rakaat sholat dalam satu hari.

Blangkon Gaya Surakarta. (Foto: Istimewa)

Blangkon Gaya Surakarta. (Foto: Istimewa)

Sementara itu, pada blangkon gaya Surakarta yang mondholan-nya berbentuk gepeng, memiliki makna bahwa untuk menyatukan satu tujuan dalam pemikiran yang lurus adalah dua kalimat syahadat yang harus melekat erat.

Blangkon juga menjadi simbol pertemuan antara jagad alit (mikrokosmos) dengan jagad gedhe (makrokosmos). Jagad gedhe dan jagad cilik terkait dengan tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi yang membutuhkan kekuatan Tuhan. Blangkon menjadi lambang kekuatan manusia dalam melakukan kewajibannya di muka bumi atas kehendak Tuhan. (Fadhil Nugroho/CN41/SMNetwork)

sumber : http://berita.suaramerdeka.com/blangkon-tanda-orang-jawa-pintar-simpan-rahasia/